KAJIAN KETEKNIKAN PERTANIAN “BERPOTENSI BESAR, SAATNYA MEMPERKUAT PERTANIAN KELAPA”

 

PENDAHULUAN

Kelapa merupakan tanaman tropis yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari penyebaran tanaman kelapa di hampir seluruh wilayah Nusantara. Kelapa merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat tanaman kelapa tidak saja terletak pada daging buahnya yang dapat diolah menjadi santan, kopra, dan minyak kelapa, tetapi seluruh bagian tanaman akelapa mempunyai manfaat yang besar. Alasan utama yang membuat kelapa menjadi komoditi komersial adalah karena semua bagian kelapa dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat tanaman kelapa tidak saja terletak pada daging buahnya yang dapat diolah menjadi santan, kopra, dan minyak kelapa, tetapi seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar.

Kelapa juga merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas di Indonesia, lebih luas dibanding karet dan kelapa sawit, dan menempati urutan teratas untuk tanaman budi daya setelah padi. Kelapa menempati areal seluas 3,70 juta ha atau 26 persen dari 14,20 juta ha total areal perkebunan. Sekitar 96,60 persen pertanaman kelapa dikelola oleh petani dengan rata- rata pemilikan 1 ha/KK dan sebagian besar diusahakan secara monokultur (97 persen), kebun campuran atau sebagai tanaman pekarangan.

Meskipun potensinya begitu besar secara nasional maupun di dunia, namun kelapa belum menjadi komoditas unggulan. Berbagai permasalahan masih dirasakan di tingkat petani, industri pengolah dan pada tingkat pemasaran. Permasalahan yang dihadapi juga beragam mulai dari teknis budidaya, skala usaha, teknologi pengolahan, pemasaran produk, sumber daya manusia, akses permodalan, infrastruktur, kesenjangan informasi dan dukungan kebijakan. Sumber daya kelapa sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar dan perlu dioptimalkan pengelolaannya sehingga kembali menjadi sebagai salah satu motor penggerak perekonomian nasional. Kelapa memiliki kontribusi dan peran strategis hampir pada semua bidang kehidupan, yaitu di bidang ekonomi, pangan, kesehatan, energi, lingkungan, konstruksi, sosial budaya, seni dan kerajinan, serta pariwisata. (Agri Lestari Nusantara, 2018)

 

KAJIAN

Apa dasar yang diberikan dalam penilaian sector pertanian kelapa menjadi salah satu komoditi yang bisa dikembangkan secara besar ?

Jawab : Tanaman kelapa merupakan tanaman serbaguna atau tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Seluruh bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, sehingga pohon ini sering disebut pohon kehidupan (tree of life) karena hampir seluruh bagian dari pohon, akar, batang, daun dan buahnya dapat dipergunakan untuk kebutuhan manusia sehari- hari.

Daun muda dipergunakan sebagai pembungkus ketupat dan sebagai bahan baku obat tradisional, sedanhkan daun tua dapat dianyam dan dipergunakan sebagia atap, kemudian lidinya sebagia bahan pembuat sapu lidi. Batang kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku perabotan atau bahan bangunan dan jembatan darurat. Akar kelap dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bir atau bahan baku pembuatan zat warna.

Buah kelapa terdiri dari sabut, tempurung, daging buah dan air kelapa. Buah kelapa dapat digunakan hampir pada seluruh bagiannya. Airnya untuk minuman segar atau dapat diproses lebih lanjut menjadi nata de coco, atau kecap. Sabut untuk bahan baku tali, anyaman keset, matras, jok kendaran.

Tempurungnya secara tradisional dibuat sebagai gayung air, mangkuk, atau diolah lebih lanjut nenjadi bahan baku obat nyamuk bakar, arang, briket arang, dan karbon aktif. Daging buahnya dapat langsung dikonsumsi atau sebagai bahan bumbu berbagai masakan atau diproses menjadi santan kelapa, kelapa parutan kering (desicated coconut) serta minyak goreng. Daging buah dapat pula diproses menjadi kopra. Kopra bila dipro ses lebih lanjut dapat menghasilkan minyak goreng, sabun, lilin, es krim atau diproses lebih lanjut sebagai bahan baku produk oleokimia seperti asam lemak (fatty acid) , fatty alcohol, dan gliserin. Hasil samping ampas kelapa atau bungkil kelapa merupakan salah satu bahan baku pakan ternak.

Cairan nira kelapa dapat diproses menjadi gula kelapa. Ketandan buah yang baru tumbuh sampai posisi tegak diambil cairannya dan menghasilkan nira. Nira ini dapat diproduksi sebagai minuman dan gula kelapa. Setiap pohon kelapa terdapat 2 buah ketandan bunga, bisa diambil niranya sampai 35 hari dan selanjutnya akan muncul ketandan bunga baru lagi. Peluang pengembangan agribisnis kelapa dengan produk bernilai ekonomi tinggi sangat besar.

Alternatif Produk yang dapat dikembangkan antara lain Virgin Coconut Oil (VCO), Oleochemical (OC), Desicated Coconut (DC), Coconut Milk/Cream (CM/CC), Coconut Charcoal, Activated Carbon (AC), Brown Sugar (BS), Coconut Fiber (CF), dan Cocon Wood (CW), yang diusahakan secara parsial maupun terpadu. Pelaku agribisnis produk- produk tersebut mampu meningkatkan pendapoatnnya 5-10 kali dibandingkan dengan bila hanya menjual produk kopra. Berangkat dari kenyataan luasnya potensi pengembangan produk, kemajuan ekonomi perkelapaan di tingkat makro (daya saing di pasar global) maupun mikro, (pendapatan petani, nilai tambah dalam negeri dan substitusi impor) tampaknya akan semakin menuntut dukungan pengembangan industri kelapa secara kluster sebagai prasyarat (Allorerung et al. 2005).

 

Bagaimana dengan data hasil pertanian kelapa di beberapa tahun sebelumnya apakah terjadi peningkatan atau penurunan ?

Jawab : Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas di Indonesia, lebih luas dibanding karet dan kelapa sawit, dan menempati urutan teratas untuk tanaman budi daya setelah padi. Kelapa menempati areal seluas 3,70 juta hektar atau 26 persen dari 14,20 juta hektar total areal perkebunan. Sekitar 96,60 persen pertanaman kelapa dikelola oleh petani dengan rata-rata pemilikan 1 hektar/KK (Allorerung dan Mahmud 2003), dan sebagian besar diusahakan secara monokultur (97 persen), kebun campuran atau sebagai tanaman pekarangan.

Pola perkembangan luas areal kelapa di Indonesia selama periode tahun 1980-2013 cenderung naik. Pada tahun 1980, luas areal kelapa di Indonesia sebesar 2.680.423 Ha, kemudian pada tahun 2013 meningkat menjadi 3.653.574 Ha. Secara umum rata-rata pertumbuhan luas areal kelapa pada kurun waktu 1980-2013 meningkat sebesar 0,96% per tahun. Pada periode 1980-1997 rata-rata pertumbuhan luas areal kelapa sebesar 1,88% per tahun sedangkan selama kurun waktu 1998-2013 luas areal kelapa cenderung turun sebesar 0,01% per tahun. Luas areal kelapa tertinggi terjadi pada tahun 2003 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 0,73% terhadap tahun 2002.

Komoditi kelapa diusahakan oleh Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PBN), dan Perkebunan Besar Swasta (PBS). Selama kurun waktu lima tahun terakhir (2009-2013) rata-rata luas areal kelapa PR turun sebesar 0,59% per tahun, luas areal PBN naik sebesar 2,17% per tahun sedangkan luas areal PBS turun 6,11% per tahun. Secara umum luas areal kelapa di Indonesia pada periode 2009-2013 turun sebesar 0,68% per tahun. Sedangkan kontribusi luas areal kelapa di Indonesia selama lima tahun terakhir didominasi oleh PR sebesar 98,76%, sisanya sebesar 0,12% merupakan kontribusi PBN, sedangkan PBS berkontribusi sebesar 1,13%.

Seperti halnya pada perkembangan luas arealnya, perkembangan produksi kelapa di Indonesia pada periode 1980-2013 cenderung naik dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,95% per tahun. Selama tahun 1980-1997 rata-rata pertumbuhan produksi kelapa naik sebesar 3% per tahun sedangkan selama 1998- 2013 rata-rata pertumbuhannya sebesar 0,85% per tahun. Secara umum terjadi peningkatan total produksi kelapa di Indonesia dari 1.666.073 ton pada tahun 1980 menjadi 3.067.980 ton pada tahun 2013, dimana produksi kelapa tertinggi dicapai pada tahun 2009 yaitu sebesar 3.257.969 ton atau naik 0,56% terhadap tahun 2008.

Rata-rata pertumbuhan produksi kelapa di Indonesia selama lima tahun terakhir (2009-2013) turun sebesar 0,93% per tahun untuk PR, ratarata pertumbuhan PBN naik sebesar 6,13%, sedangkan rata-rata pertumbuhan PBS turun sebesar 6,64% per tahun Sedangkan kontribusi produksi kelapa selama periode 2009-2013 didominasi oleh PR dengan rata-rata kontribusi sebesar 98,50%, PBN berkontribusi 0,09% sedangkan PBS memberikan kontribusi sebesar 1,41% terhadap total produksi kelapa di Indonesia. (Pusdatin, 2014)

Adakah peran pemerintah dalam meningkatkan hasil pertanian kelapa dari petani kecil yang jumlahnya hampir sangat mendominasi ?

Jawab : Terbatasnya perhatian pemerintah terhadap perkelapaan, secara langsung dan tidak langsung telah mengabaikan nasib dan kepentingan sekitar 8 juta KK (40 juta rakyat Indonesia) yang meliputi petani, buruh tani, buruh dagang, pedagang, dan buruh industri (Allorerung dan Mahmud 2003). Hal ini terjadi karena penilaian peran suatu komoditas khususnya kelapa secara nasional sering bias, karena hanya dilihat dari kontribusinya terhadap perolehan devisa dengan mengabaikan jumlah rakyat yang terlibat langsung di dalamnya. Sejak zaman penjajahan hingga kini, profil usaha tani kelapa praktis tidak banyak mengalami perubahan. Produk yang dihasilkan petani tetap hanya berupa kopra atau kelapa butiran. Bahkan jika dahulu petani atau usaha kecil pedesaan banyak mengolah minyak klentik, sekarang praktis sudah tidak ada (Allorerung dan Mahmud 2003). Dengan demikian, peran sosial ekonomi kelapa bagi petani relatif tidak berubah.

Kondisi ekonomi kelapa dalam kurun waktu 30 tahun terakhir relatif tidak berubah, baik dari segi pendapatan maupun pengusahaan kelapa oleh petani. Hasil penelitian Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain pada tahun 2001 di sentra produksi kelapa Kabupaten Indragiri Hilir (Riau), Kabupaten Minahasa dan Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) menunjukkan bahwa umumnya petani kelapa di wilayah tersebut memiliki status social ekonomi di bawah garis kemiskinan (standar US$ 200/kapita/tahun) (Tarigans 2003). Kondisi tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi secara sungguh-sungguh. Untuk itu pemberdayaan petani kelapa dalam rangka meningkatkan pendapatan dan sekaligus mengentaskan kemiskinan merupakan upaya yang strategis.

 

Dengan adanya iklim dan letak geografis yang sesuai untuk perkembangan kelapa, apa yang menyebabkan pertanian kelapa Indonesia tidak berkembang dengan sempurna ?

Jawab : Permasalahan yang menyebabkan pertanian kelapa tidak berkembang karena perkebunan kelapa sebagian besar merupakan perkebunan rakyat dengan penguasaan lahan relatif kecil rata-rata 0,5 hektar per keluarga petani, dengan produktivitas sangat rendah. Sepertiga tanaman kelapa di Indonesia dalam kondisi tua dan tidak produktif, selain itu juga kelapa diversifikasi produk dengan nilai tambah tinggi kurang berkembang. Banyak pohon kelapa sudah berusia tua (tidak produktif), tetapi replantasi berjalan tersendat/lamban, bahkan banyak perkebunan kelapa yang beralih fungsi.

 

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari kajian kali ini adalah :

  1. Seluruh bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, sehingga pohon ini sering disebut pohon kehidupan (tree of life) karena hampir seluruh bagian dari pohon, akar, batang, daun dan buahnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan;
  2. Perkembangan produksi kelapa di Indonesia pada periode 1980-2013 cenderung naik dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,95% per tahun.
  3. Dilihat dari kontribusinya terhadap perolehan devisa dengan mengabaikan jumlah rakyat yang terlibat langsung di dalamnya sehingga perhatiaan pemerintah kurang mengenai perkelapaan;
  4. Permasalahan mengenai perkelapaan yaitu karena penguasaan lahan yang relative kecil, juga sepertiga tanaman kelapa di Indonesia sudah cukup tua dan tidak produktif.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Allorerung, D. dan Z. Mahmud. 2003. Dukungan kebijakan iptek dalam pemberdayaan komoditas kelapa. Prosiding Konferensi Nasional Kelapa V. Tembilahan, 22−24 Oktober 2002. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor. hlm. 70−82.

Allorerung, D., Mahmud, Z., Wahyudi., Novarianto, H., Luntungan, H.T. 2005.

Agri Lestari Nusantara, 2018. Potensi Kelapa Indonesia. Terdapat pada : http://alnusantara.co.id/?p=33 (Diakses pada 29 januari 2018 pukul 09.28 WIB)

Pusdatin, 2014. Outlook Komoditi Kelapa. Terdapat pada : http://pusdatin.setjen.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/outlook_kelapa_2014.pdf (Diakses pada 29 Januari 2018 pukul 09.39 WIB)

 

“KAJIAN KETEKNIKAN PERTANIAN “INDONESIA BICARA MENGENAI KOMITMEN ASIA UNTUK SDG PANGAN DAN PERTANIAN”

 PENDAHULUAN

Di era globalisasi ini pertanian telah menghadapi banyak tantangan baru. Produksi dan pangan serat harus ditingkatkan secara drastis untuk dapat memenuhi kebutuhan populasi yang terus tumbuh dan modern dengan proporsi makin sedikit tenaga pedesaan. Perubahan kebiasaan dan pola makan juga akan merubah sistem produksi tanaman dan ternak. Dihadapkan dengan ketahanan pangan global, energi dan kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan, negara harus dapat menjawab tantangan dan kesempatan dalam produksi dan pemanfaatan biofuel. Di beberapa tempat di dunia, pengaruh perubahan iklim juga memerlukan perubahan dalam kemampuan adaptasi dari banyak jenis tanaman dan hijauan pakan, juga peningkatan ketergantungan antar negara dalam sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian (SDGTPP)/plant genetic resources for food and agriculture (PGRFA).

Perubahan iklim juga menyebabkan perubahan praktek dan areal produksi dan kemunculan hama dan penyakit pada tanaman dan ternak. Pertanian perlu terus mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati serta untuk dapat mengadopsi praktek produksi yang efisien dan berkelanjutan. Alih fungsi lahan akan membatasi area yang tersedia untuk pertanian dan meningkatkan tekanan pada populasi kerabat liar tanaman (KLT)/crop wild relatives (CWR) dan tanaman pangan liar.

Saat ini SDGTPP telah mendukung kemampuan pertanian untuk mengatasi perubahan, baik lingkungan maupun sosial ekonomi. Oleh karenanya Indonesia memiliki komitmen mengenai SDGTPP yang akan berperan makin penting dalam menjamin perbaikan secara berkelanjutan dalam produksi dan produktivitas pertanian, tidak hanya dengan menyediakan gen baru untuk perbaikan varietas tanaman, namun juga berkontribusi dalam fungsi agro ekosistem yang efektif dan pengembangan bioproduk. Karena di banyak wilayah pedesaan di dunia, SDGTPP merupakan komponen penting sebagai strategi mata pencaharian masyarakat adat dan lokal.

 

Bagaimana peran Indonesia terkait kebijakan umum dan implementasi dari perjanjian internasional tentang sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian?

Selama satu dekade terakhir, kemajuan telah dibuat dalam membangun program nasional SDGTPP dan peningkatan partisipasi pemangku kepentingan dalam strategi nasional dan rencana aksi, khususnya yang berkaitan dengan sektor swasta, organisasi non-pemerintah, organisasi pemulia dan petani, dan penelitian serta badan pendidikan. Komitmen ini terlihat juga pada kenyataan bahwa beberapa perjanjian internasional penting yang berkaitan dengan SDGTPP telah dinegosiasikan, diadopsi atau direvisi selama periode ini, termasuk Traktat Internasional, Konvensi Perlindungan Tanaman Internasional, Protokol Kartagena mengenai Keamanan Hayati dan Protokol Nagoya mengenai Akses terhadap Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Merata dari Pemanfaatannya. Perundang-undangan nasional juga telah diberlakukan di banyak negara sehubungan dengan peraturan fitosanitari, keamanan hayati, peraturan perbenihan, hak pemulia tanaman dan Hak Petani seperti yang tercantum dalam Pasal 9 Traktat Internasional dan tunduk pada perundang-undangan nasional.

 

Bagaimana Indonesia dapat membangun dan memperkuat sistem informasi yang komprehensif untuk sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian?

Prioritas yang tinggi diberikan di semua tingkatan untuk membangun, menyusun kepegawaian dan menjaga sistem informasi dan dokumentasi SDGTPP yang ramah pengguna yang didasarkan pada standar internasional. Sistem tersebut dapat berkontribusi pada pengambilan keputusan, tidak hanya pada konservasi dan pemanfaatan SDGTPP, tetapi juga pada peran khusus SDGTPP dalam isu-isu yang lebih luas dari pengembangan pertanian dan ketahanan pangan. Upaya dilakukan untuk mengembangkan standar dan indikator yang lebih akurat dan tepercaya dan mengumpulkan data dasar untuk kelestarian dan ketahanan pangan yang akan memungkinkan melakukan pemantauan dan penilaian kemajuan di wilayah yang lebih baik dan kontribusi oleh SDGTPP untuk kemajuan tersebut.

 

Bagaimana kerja sama Internasional dalam hal pemanfaatan berkelanjutan SDGTPP?

Memperluas karakterisasi, evaluasi, dan pengembangan kelompok koleksi khusus untuk memfasilitasi pemanfaatannya, mendukung pemuliaan tanaman, pengkayaan genetik dan upaya perluasan latar belakang genetik, mempromosikan diversifikasi produksi pertanian dan perluasan keanekaragaman tanaman untuk pertanian berkelanjutan, empromosikan pengembangan dan komersialiasi semua varietas, terutama varietas petani/landrace dan spesies yang kurang dimanfaatkan dan mendukung produksi dan distribusi benih.

Kerja sama internasional untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan SDGTPP juga harus diperkuat, khususnya untuk mendukung dan melengkapi upaya negara-negara berkembang dan negara dengan ekonomi dalam transisi. Badan Pengatur Traktat Internasional akan memegang peran kunci dalam hal ini. Sejauh mana negara-negara berkembang dan negara dengan ekonomi dalam transisi secara efektif akan memenuhi komitmen mereka yang akan sangat tergantung pada pelaksanaan yang efektif dari Traktat Internasional dan Strategi Pendanaannya.

 

Bagaimana strategi pendaan dalam SDGTTP untuk setia negara di Asia?

Sejauh ini, pendanaan yang paling signifikan untuk SDGTPP bagi sebagian besar wilayah di Indonesia telah disediakan oleh pemerintah maupun sumber dana dalam negeri lainnya. Sumber dana yang besar untuk SDGTPP juga termasuk sumber bilateral dan regional dan organisasi multilateral. Mengingat pentingnya kontribusi sumber daya dari dalam negeri, baik sektor publik dan swasta, masing-masing negara harus membuat usaha yang memungkinkan untuk menyediakan dana, sesuai dengan kapasitasnya, dukungan keuangan sehubungan dengan kegiatan nasional tersebut yang  dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang sejalan dengan rencana, prioritas dan program nasional

 

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari kajian ini adalah :

  1. Sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian merupakan dasar biologis bagi produksi pertanian dan ketahanan pangan dunia. Sumber daya ini merupakan bahan mentah paling penting bagi petani, yang memeliharanya, dan untuk para pemulia tanaman.
  2. Keanekaragaman genetik dalam sumber daya ini memungkinkan tanaman dan varietas dapat beradaptasi dalam kondisi yang selalu berubah dan mengatasi masalah yang disebabkan oleh hama, penyakit dan cekaman abiotik.
  3. Sumber daya genetik tanaman juga merupakan hal yang penting bagi keberlanjutan produksi pertanian.
  4. Tidak ada inkompatibilitas yang melekat antara konservasi dan pemanfaatan dari sumber daya ini. Pada kenyataannya, akan menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa kedua kegiatan ini saling melengkapi satu sama lain.
  5. Konservasi, pemanfaatan yang berkelanjutan dan pembagian keuntungan yang adil dan merata dari pemanfaatan sumber daya genetik merupakan perhatian utama di tingkat Internasional. Hal ini merupakan tujuan dari Traktat Internasional mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian, yang juga sejalan dengan Konvensi Keanekaragaman Hayati.
  6. Dalam konteks adanya hak kedaulatan suatu negara terhadap sumber daya hayatinya dan ketergantungan antar negara dalam sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian, pertemuan GB 7 untuk Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian merupakan manifestasi yang sesuai bagi masyarakat internasional untuk terus peduli dan bertanggung jawab terhadap bidang ini.